Belajar Manajemen Risiko: Tujuan dan Penerapannya



Belajar Manajemen Risiko: Tujuan dan Penerapannya

Risiko ada di mana-mana, bisa datang kapan saja, dan sulit dihindari. Apabila suatu risiko terjadi pada suatu organisasi, kemungkinan organisasi tersebut akan mengalami kerugian yang cukup besar. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut bisa mengakibatkan kehancuran organisasi tersebut. Karena itu risiko penting untuk dikelola. 

Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko sehingga organisasi bisa bertahan, atau barangkali mengoptimalkan risiko. Dikarenakan terdapat keuntungan dibalik sebuah risiko, kadangkala perusahaan seringkali dengan sengaja mengambil risiko tertentu.

Pertanyaan yang sering muncul berkaitan dengan beragamnya risiko adalah bagaimana mengelola risiko tersebut? Apakah risiko dikelola satu persatu atau secara serentak? Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan risiko, apakah setiap karyawan dan manajer bertanggung jawab mengelola risiko masing-masing? Atau perlu ada staf atau manajer khusus untuk menangani risiko?


a. Kompleksitas Risiko

Semakin sederhana risiko, semakin mudah pengelolaannya. Setiap karyawan atau manajer bertanggung jawab untuk mengelola risiko di unit kerja masing-masing. Mereka harus memasukkan risiko yang dapat dihitung (calculated risk atau disebut juga expected risk) ke dalam perencanaan. 

Misalnya, manajer persediaan bahan baku perlu memperkirakan kerusakan atau kehilangan bahan setiap periode. Risiko kehilangan atau kerugian tersebut dimasukkan dalam rencana pembelian bahan baku, sistem pengawasan bahan baku, dan lainnya. Tentu saja tindakan ini menimbulkan akibat berantai. Risiko kehilangan dan kerusakan menyebabkan pembelian dan penggunaan bahan baku meningkat. Dampaknya berupa peningkatan biaya bahan baku per unit produk. Tentu saja akibat berikutnya adalah kenaikan harga jual produk.


b. Kondisi Eksternal

Kompleksitas risiko sangat bergantung pada faktor eksternal perusahaan yang menjadi peril atau penyebab risiko. Misalnya, risiko pasar semakin besar bila faktor-faktor ekonomi berfluktuasi dengan besar. Misalnya, semakin besar fluktuasi harga minyak, gejolak politik, pertumbuhan pendapatan nasional, inflasi, dan faktor fundamental lainnya, maka risiko pasar semakin besar pula. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dapat menghitung expected risk. Masalahnya, semakin besar gejolak fundamental cenderung memperbesar uncalculated atau unexpected risk.

Risiko dengan komponen unexpected risky yang besar akan menyulitkan setiap staf atau manajer untuk mengelola risiko secara individual. Kesulitan terjadi karena tidak semua staf atau manajer memiliki keahlian yang mencukupi untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan unexpected risk kemudian diserahkan ke pihak lain yang ditunjuk secara khusus.


c. Ketersediaan Produk Pengelolaan Risiko 

Pada awalnya, asuransi merupakan satu-satunya produk yang berfungsi dalam pengelolaan risiko. Itulah sebabnya setiap staf dan manajer perlu berurusan dengan asuransi setiap menghadapi risiko, khususnya unexpected risk. Demikian juga bila perusahaan menunjuk seseorang menjadi manajer risiko. Pekerjaan utama dia adalah mengidentifikasi risiko, mengukurnya, dan menyeleksi produk asuransi yang cocok untuk mengelola risiko tersebut.

 Penerapan manajemen risiko di dalam industri perbankan sejak 9 Januari 2004 telah diluncurkan Arsitekur Perbankan Indonesia (API). API menetapkan 6 pilar sebagai program untuk menciptakan industri yang sehat.  

1) Menciptakan Struktur Perbankan yang Sehat 

2) Menciptakan Sistem Pengaturan yang Efektif  

3) Melaksanakan Sistem Pengawasan Bank yang Independen  

4) Menciptakan Industri Perbankan yang Kuat Dan Memiliki Daya Saing  

5) Mewujudkan Infrastruktur yang Lengkap  

6) Mewujudkan Pemberdayaan dan Perlindungan Konsumen 


2. Pengertian Manajemen Risiko

Ada banyak definisi tentang manajemen risiko. Definisi yang disajikan dalam modul ini hanyalah beberapa definisi yang saling melengkapi dan dibutuhkan untuk memahami apa yang dimaksud dengan manajemen risiko.

(1) Redja, E George (2008:42) mendifinisikan risk management is a process that identifies loss exposures faced by an organization and selects the most appropriate techniques for treating such exposures. 

(2) Bank Indonesia mendefinisikan manajemen risiko sebagai serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.

(3) Widigdo Sukarman mendefinisikan manajemen risiko sebagai keseluruhan sistem pengelolaan dan pengendalian risiko yang dihadapi oleh bank yang terdiri dari seperangkat alat, teknik, proses manajemen (termasuk kewenangan dan sistem dan prosedur operasional) dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat profitabilitas dan tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan dalam corporate plan atau rencana strategis perusaahaan lainnya sesuai dengan tingkat kesehatan perusaahaan yang berlaku.

(4) William T. Thomhill mendefinisikan manajemen risiko sebagai sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya adalah untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan melalui asuransi atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, keteledoran manusia, atau karena keputusan pengadilan. Dalam prakteknya, proses ini mencakup langkah-langkah logis seperti pengidentifikasian risiko, pengukuran dan penilaian atas ancaman (exposures) yang telah diidentifikasi, pengendalian ancaman tersebut melalui eliminasi atau pengurangan; dan pembiayaan ancaman yang tersisa agar apabila kerugian tetap terjadi, organiseisi dapat terus menjalankan usahanya tanpa terganggu stabilitas keuangannya.


3. Tujuan Manajemen Risiko

Tujuan manajemen risiko menurut Redja, E George (2008:43) diklasifikasikan menjadi dua, antara lain:

a. Pre-Loss Objectives 

Tujuan yang ingin dicapai sebelum terjadi kerugian, meliputi ekonomi, pengurangan kecemasan, dan memenuhi kewajiban hukum. 

1) Tujuan Ekonomi

Tujuan ekonomi berarti bahwa perusahaan harus mempersiapkan potensi kerugian dengan cara yang paling ekonomis. Persiapan ini melibatkan analisis biaya program keselamatan, premi asuransi yang dibayar, dan biaya yang berkaitan dengan teknik lain untuk menangani kerugian.

2) Tujuan Mengurangi Kecemasan

Eksposur kerugian tertentu dapat menyebabkan kekhawatiran yang lebih besar dan ketakutan untuk manajer risiko dan manajer perusahaan. Misalnya, ancaman gugatan konsumen dari produk cacat .

3) Tujuan Memenuhi Kewajiban Hukum

Misalnya, peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap perusahaan untuk menerapkan standar upah minimum.

b. Post-Loss Objectives

Tujuan yang ingin dicapai setelah kerugian terjadi. Tujuan ini meliputi kelangsungan hidup, keberlangsungan operasi, stabilitas pendapatan, pertumbuhan, dan tanggung jawab sosial. 

1) Kelangsungan Hidup 

Kelangsungan hidup setelah kerugian terjadi diharapkan perusahaan masih dapat melanjutkan kegiatan operasi.

2) Keberlangsungan Operasi

Untuk beberapa perusahaan, kemampuan untuk beroperasi setelah kerugian sangat penting. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang melayaani konsumen harus terus memberikan layanan. Bank, toko roti, susu, dan perusahaan kompetitif lainnya harus terus beroperasi setelah kerugian. Jika tidak, bisnis akan bangkrut terdegradasi oleh pesaing.

3) Stabilitas Pendapatan

Laba bersih per lembar saham dapat dipertahankan jika perusahaan terus beroperasi. Namun, sebuah perusahaan mungkin terjadi biaya tambahan yang cukup besar pada saat perusahaan membuka cabang, dan pendapatan yang diharapkan akan diterima tidak dapat dicapai.

4) Pertumbuhan Perusahaan. 

Sebuah perusahaan dapat tumbuh dengan mengembangkan produk baru dan memperluas pasar atau dengan mengakuisisi atau merger dengan perusahaan lain. Oleh karena itu manajer risiko harus mempertimbangkan efek kerugian yang akan terjadi.

5) Tanggung Jawab Sosial 

Tanggung jawab sosial adalah untuk meminimalkan efek kerugian yang akan dimemiliki orang lain dan masyarakat. Sebuah kerugian yang parah dapat mempengaruhi karyawan, pemasok, kreditur, dan masyarakat pada umumnya. Misalnya, kehilangan tanaman-tanaman untuk memperluas pabrik di sebuah kota kecil dapat menyebabkan suhu udara menjadi meningkat.


4. Manfaat Manajemen Risiko

Manfaat dari manajemen risiko akan dirasakan apabila didefinisikan dengan jelas tujuan yang hendak dicapai dan disusun pedoman bagi penanggung jawab program dan evaluasi hasilnya. Walaupun manajemen risiko merupakan disiplin ilmu yang sangat bersifat teknis dan rumit, tetapi merumuskan tujuan tidak demikian. Ada yang mencantukan tujuan dalam bentuk biaya. Memang biaya merupakan pertimbangan yang penting, tetapi terlalu menekankan pada biaya, bisa menyebabkan penetapan program yang tidak memadai. Program yang tidak memadai pada akhirnya akan lebih mahal dari program yang memadai, karena penyediaan pengeluaran yang besar bagi penutupan kerugian yang datang secara kebetulan.

Dengan diterapkannya manajemen risiko di suatu perusahaan ada tiga manfaat yang akan diperoleh, yaitu:

a. Memberi sumbangan langsung pada laba perusahaan 

Memberi sumbangan langsung pada laba perusahaan (atau bagi organisasi non laba  berupa efisiensi operasi) dengan menekan biaya dan sekaligus meningkatkan penghasilan. Contoh: manajemen risiko dapat menurunkan biaya melalui pencegahan atau penurunan kerugian yang tak terduga sebagai hasil dari upaya-upaya dengan biaya kecil tertentu, melalui pengalihan kerugian serius yang potensial kepada pihak lain dengan biaya yang serendah mungkin, dan melalui penanganan sendiri kerugian-kerugian kecil.


b. Memberi sumbangan tidak langsung pada laba perusahaan.

Memberi sumbangan tidak langsung pada laba perusahaan dengan cara

1) Jika perusahaan dapat berhasil menangani risiko mumi, maka ketenangan pikiran dan kepercayaan yang ditimbulkannya memungkinkan manajer dapat memikirkan dan melakukan risiko-risiko usaha yang lebih spekulatif. Contoh jika suatu perusahaan terus khawatir terjadinya kebakaran atas pabriknya dan kecelakaan kerja atas karyawannya, manajernya mungkin akan membatasi diri pada pasar yang ada saat ini saja. Jika terbebas dari kekhawatiran itu, manajer akan memperluas pasaran ke luar negeri.

2) Dengan memberi peringatan kepada manajer puncak adanya aspek risiko murni dalam usaha, manajemen risiko meningkatkan kualitas keputusan mengenai usaha itu. Contoh suatu perusahaan yang sedang mempertimbangkan apakah menyewa atau membeli sebuah gedung akan mengambil keputusan yang keliru, jika mengabaikan berbagai pengaruh ekonomis dari kemungkinan kerusakan fisik karena kebakaran, gempa, dan sebagainya. Jika suatu keputusan telah dibuat untuk melakukan suatu usaha yang berisiko, penanganan aspek risiko murni yang sebaik-baiknya memungkinkan perusahaan menjalankan usahanya lebih arif dan lebih efisien. Contoh: suatu perusahaan dapat mengembangkan jenis-jenis produknya lebih agresif jika mendapat jaminan bahwa perusahaan telah terlindungi terhadap kemungkinan tuntutan mengenai produknya. Manajemen risiko dapat menekan fluktuasi dalam laba dan aliran kas, sehingga akan membantu penyusunan rencana kerja dan anggaran perusahaan.

Kreditur, pelanggan, dan pemasok yang dapat menunjang laba perusahaan memilih berhubungan dengan perusahaan yang mempunyai perlindungan yang cukup terhadap risiko-risiko murni.


c. Menentukan kelangsungan hidup dan kegagalan perusahaan.

Beberapa risiko murni, seperti tuntutan liabilitas yang besar atau kehancuran fisik fasilitas pabrik, dapat melumpuhkan suatu perusahaan; tan pa persiapan yang baik atas peristiwa-peristiwa tersebut, perusahaan dapat bangkrut. Seandainya, manajemen risiko tidak memberi sumbangan pada kesehatan ekonomis perusahaan dengan cara lainnya, kemanfaatan ini saja sudah merupakan fungsi kritis dari manajemen perusahaan.


Manajemen Risiko Perusahaan

1. Pendahuluan

Istilah manajemen risiko perusahaan di beberapa litaratur kadang-kadang disebut Enterprise Risk Management (ERM), Organization Risk Management (ORM), Integrated Risk Management (IRM), atau Total Risk Management (TRM). Manajemen risiko perusahaan adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang dihadapi oleh perusahaan sccara komprehensif untuk tujuan meningkatkan nilai perusahaan.

Bagan berikut menunjukkan manajemen risiko perusahaan (enterprise risk management) terdiri dari dua elemen besar: 

(1) Infrastruktur atau prasarana, yang terdiri dari prasarana lunak dan keras, 

(2) Proses manajemen risiko. 

Kemudian manajemen risiko organisasi bertujuan membantu pencapaian tujuan organisasi, dalam hal ini dirumuskan secara eksplisit menjadi memaksimumkan nilai perusahaan.


Gambar 2.1 Manajemen Risiko Perusahaan


2. Elemen Manajemen Risiko Perusahaan

Misalkan kita ditugaskan untuk membuat dan memimpin departemen manejemen risiko suatu perusahaan, bagaimana kita memulainya? Bagan di atas menunjukkan kerangka yang bisa digunakan untuk memulai membangun departemen manajemen risiko. Pertama, kita harus menyiapkan prasarana yang diperlukan untuk memulai pekerjaan manajemen risiko, yang meliputi prasarana lunak (non-fisik) dan prasarana keras (fisik).

Salah satu hal yang penting dikerjakan untuk mempersiapkan manajemen risiko adalah menyiapkan prasarana yang mendukung manajemen risiko, yang meliputi prasarana lunak dan keras.

a. Prasarana Lunak

Ada beberapa isu yang berkaitan dengan penyiapan prasarana lunak untuk manajemen risiko, yaitu: (1) Mengembangkan budaya sadar risiko untuk anggota organisasi, (2) Dukungan manajemen.


b. Prasarana Keras

Di samping prasarana lunak, prasarana keras juga perlu disiapkan. Contoh prasarana keras yang perlu disiapkan adalah ruangan perkantoran, komputer, dan prasarana fisik lainnya. Prasarana fisik tersebut perlu dipersiapkan agar pekerjaan manajemen risiko berjalan sebagaimana mestinya.


3. Penerapan Manajemen Risiko

Dalam menerapkan manajemen risiko secara efektif, baik untuk perusahaan secara individual maupun untuk perusahaan secara konsolidasi dengan anak perusahaan, perusahaan melakukan minimal mencakup empat pilar, yaitu:

(1) Melaksanakan tata kelola manajemen risiko perusahaan sesuai praktik terbaik.

(2) Menyediakan kerangka manajemen risiko yang memadai.

(3) Mengupayakan kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko serta menyediakan sistem informasi manajemen risiko secara memadai, dan menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan baik secara kuantitas maupun kualifikasi sesuai kebutuhan.

(4) Melaksanakan sistem pengendalian intern secara menyeluruh.


Prinsip tata kelola perusahaan adalah seperangkat ketentuan mengenai hubungan antara Dewan Komisaris, Dewan Direksi, seluruh pihak yang memiliki kepentingan secara langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan usaha perusahaan (stakeholders) dan pemegang saham perusahaan.

Tata kelola sistem manajemen risiko akan berjalan baik apabila perusahaan sudah menerapkan batas risiko yang direncanakan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance), dan menerapkan pengawasan aktif dari Dewan Komisaris, Dewan Direksi dan manajemen senior lainnya.


a. Struktur Tata Kelola Perusahaan

Struktur tata kelola perusahaan di bank dapat bervariasi bergantung pada kebiasaan yang berlaku, batasan hukum dan perkembangan sejarah, dan pengalaman tiap-tiap bank.

Meskipun tidak terdapat satu struktur yang ideal, terdapat isu-isu penting yang harus diterapkan dalam rangka memastikan kecukupan checks and balances yang terbangun dalam struktur, antara lain meliputi:

(1) Penetapan risk appetite dan toleransi risiko.

(2) Pengawasan aktif oleh Dewan Komisaris dan Direksi.

(3) Pengawasan oleh pihak yang tidak terlibat dalam menjalankan operasional bisnis.

(4) Pengawasan langsung terhadap setiap aktivitas bisnis yang dilaksanakan bank.

(5) Menyediakan fungsi manajemen risiko dan fungsi audit yang independen terhadap fungsi bisnis.

(6) Melakukan proses 'fit and proper' terhadap personal kunci sesuai bidang pekerjaannya.

(7) Membuat laporan berkala mengenai pelaksanaan GCG.


b. Organisasi Manajemen Risiko

Organisasi manajemen risiko wajib dibentuk pada level direksi dan pada, level komisaris yang disesuaikan dengan kompleksitas masing-masirg perusahaan.

1) Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Komisaris

2) Organisasi Manajemen Risiko di bawah Dewan Direksi


4. Hubungan Manajemen Risiko dengan Fungsi Lain

Hubungan antara manajemen risiko dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya dapat diklasifikasikan dengan dua cara, yaitu:

(1) Fungsi-fungsi yang langsung mengenali, menilai, dan menangani eksposur kerugian.

(2) Fungsi-fungsi yang membantu manajemen risiko dalam menangani risiko murni.

Berbagai bidang manajemen lain yang ikut menangani fungsi manajemen risiko termasuk akuntansi, keuangan, pemasaran, personel, produksi, hukum, dan juga jasa pihak ketiga.


5. Proses Manajemen Risiko

Modul ini membicarakan manajemen risiko dalam konteks organisasi, yaitu bagaimana suatu organisasi bisa mengelola risiko yang dihadapinya. Bagian berikut ini membicarakan secara ringkas manajemen risiko. Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses berikut ini.

a. Identifikasi Risiko

Pengertian identifikasi risiko secara singkat adalah suatu proses yang dilakukan oleh perusahaan secara sistematis dan terus-menerus dalam mengidentifikasi properti, liabilitas (liability), dan personnel exposures sebelum terjadinya peril. Jadi yang diidentifikasi adalah peril yang dapat menimpa harta milik, personal perusahaan, serta kewajiban yang menimbulkan kerugian.


Dalam hal ini terdapat tiga unsur penting yang perlu diketahui dalam proses identifikasi risiko, yakni 

(1) mengetahui keberadaan risiko, 

(2) mengetahui penyebab timbulnya risiko, dan 

(3) mengetahui metode yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab risiko. 


b. Evaluasi dan Pengukuran Risiko

Pengukuran risiko digunakan untuk mengukur eksposur risiko perusahaan sebagai acuan untuk memutuskan apakah perlu dilakukan proses pengendalian. Sesudah manajer risiko mengidentifikasikan berbagai jenis risiko yang dihadapi perusahaan, maka selanjutnya risiko itu harus diukur. Perlunya diukur adalah untuk menentukan relatif pentingnya dan memproleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya.

Informasi yang diperlukan berkenaan dengan dua dimensi risiko yang perlu diukur, yaitu:

(1) Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi.

(2) Keparahan dari kerugian itu.


c. Pengelolaan Risiko

Setelah analisis dan evaluasi risiko, langfcah b&ikutnya adalah mengelola risiko. Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang diterima bisa cukup serius, misal kerugian yang besar. Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, seperti penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke pihak lainnya. Erat kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk control), dan pendanaan risiko (risk financing).

1) Penghindaran Risiko (Risk Avoidance)

Risk avoidance adalah teknik mengelola risiko dengan cara menghidari risiko. Cara ini paling mudah dan aman pada saat perusahaan menghadapi risiko, maka risiko tersebut dihindari. Namun, hal tersebut bisa dilakukan jika dengan menghidari risiko tersebut tidak ada pengaruh negatif terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Misalkan saja perusahaan mempunyai dua pilihan untuk mencari gudang, satu di daerah rawan banjir, yang lainnya di daerah aman banjir. Jika segala sesuatunya sama (misal harga sewanya sama), perusahaan seharusnya memilih gudang yang di daerah aman banjir. 

2) Penahan Risiko (Risk Retention). 

Risk retention  adalah upaya perusahaan dalam menghadapi risiko, dimana risiko tersebut dihadapi sendiri.  Jika risiko benar-benar terjadi, perusahaan harus menyediakan dana untuk menanggung risiko tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki kendaraan roda empat, jelas mempunyai risiko kehilangan, risiko menabrak trotoar, atau spion ada yang mencuri. Apabila salah satu risiko benar-benar terjadi, maka ia harus menanggung sendiri risiko tersebut.

3) Diversifikasi. 

Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Sebagai contoh, kita barangkali akan memiliki aset tidak hanya satu, tetapi pada beberapa aset, misal saham A, saham B, obligasi C, properti, dan sebagainya. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut diharapkan bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset lainnya.

4) Pengendalian Risiko (Risk Control). 

Untuk risiko yang tidak bisa dihindari, organisasi perlu melakukan pengendalian risiko. Pengendalian risiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Dengan menggunakan dua dimensi yaitu probabilitas dan severity. Pengendalian risiko bertujuan untuk mengurangi probabilitas munculnya kejadian, mengurangi tingkat keseriusan (severity), atau keduanya.

5) Pengalihan Risiko (Risk Transfer)

Jika kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mengalihkan risiko tersebut ke pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Pihak lain tersebut biasanya mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan risiko, baik karena skala ekonomi yang lebih baik sehingga bisa mendiversifikasikan risiko lebih baik, atau karena mempunyai keahlian untuk melakukan manajemen risiko lebih baik. 

Risk transfer bisa dilakukan melalui beberapa cara:

(a) Asuransi

(b) Hedging

(c) Incorporated

silahkan file materi bisa didapatkan disini


Tidak ada komentar untuk "Belajar Manajemen Risiko: Tujuan dan Penerapannya"